Kayu Jati Lokal

Kayu Jati
Kayu Jati Lokal adalah kayu bulat/ log atau kayu olahan yang berasal dari pohon jati yang tumbuh dari hasil budidaya pada lahan masyarakat atau tumbuh secara alami diatas hutan hak yang terletak diluar kawasan hutan negara. Dewasa ini orang lebih mengenal istilah kayu jati lokal dengan nama kayu jati rakyat. Secara kualitas, Kayu Jati Lokal memang masih dibawah produk Kayu Jati Perhutani yang pengelolaannya dibawah riset dan teknologi namun tetap saja diperhitungkan dalam berbagai industri dan usaha pengelolaan kayu baik untuk bahan bangunan maupun dalam bentuk hasil kerajinan seperti mebel dal lainnya.
Kayu Jati Lokal ataupun Kayu Jati Perhutani sama-sama termasuk Kayu Jati dengan kategori kayu kelas satu yang bakal meramaikan industri pengolahan kayu didalam negeri seiring dengan pertambahan jumlah penduduk khususnya di Indonesia maka tidak diragukan lagi untuk permintaan kayu jati akan semakin meningkat.
         
Kayu jati dengan nama ilmiah Tectona grandis Linn.F merupakan salah satu jenis kayu komersial yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang tidak lekang dimakan jaman, dan orang banyak memilih kayu jati karena kwalitas dan keawetannya melebihi jenis kayu lain. Sehingga wajar jika diminati banyak orang baik dalam negeri maupun luar negeri. Dimata dunia, Indonesia termasuk negara keempat terbesar dalam penyediaan  kayu jati setelah Burma, India dan Thailand.
     
Pengelolaan atau budidaya kayu jati rakyat ini sudah diberikan hak sepenuhnya oleh pemerintah kepada masyarakat yang mau membuka lahan budidaya kayu jati lokal dengan ditetapkannya UU No.41 tahun 1999 tentang kehutanan yaitu salah satu upaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan  hutan kayu di Indonesia. Masyarakat  diberikan kewenangan untuk memperoleh hak bahkan kewajiban yang lebih besar untuk terlibat dalam pengelolaan hutan di Indonesia.

Potensi hutan jati rakyat di Indonesia telah ada sejak awal tahun 2005 seluas 1.568.415 ha dengan potensi mencapai 39.564.000 m3 dengan jumlah pohon mencapai 226.680.000 batang dan yang siap tebang sebanyak 78.486.000 batang dan memiliki potensi produksi kayu minimal 19.621.000 m3. Potensi hutan jati rakyat  tersebut sebagian besar masih terkonsentrasi di Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sumatra.

Kayu jati lokal memiliki karakter atau ciri fisik tersendiri dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda kwalitasnya dengan kayu jati perhutani. Kami mengambil sampel kayu jati lokal Sulawesi yang sekarang lagi trend dan bagus penjualannya dipasar industri kayu di Indonesia karena dipandang harga lebih terjangkau dan mudah didapat serta memiliki kwalitas yang beragam sehingga konsumen bisa memilih jenis kayu jati yg diinginkan menyesuaikan kebutuhan.